Rabu, 03 Juli 2019

My poem mutiara

Dia adalah mutiara
Mutiara yang sangat mulia
Mutiara yang jatuh di tangan yang salah
Tapi mutiara tetap lah mutiara berkilau dan selalu indah

Dia lah Siti Asiyah wanita yang mulia
Wanita soleha dengan keimanan tiada tara
Sang Ratu yang mulia cerdas dan penuh cinta
Kesabaran nya yang tiada tara adalah perhiasan diri nya yang paling Indah

Cinta nya pada sang pecipta (Allah SWT)
kekuatan dan keimanan adalah Mahkota nya
Kecerdasan  adalah perhiasan nya
Itu lah Asiyah salah satu wanita terhebat tercantik sedunia  mutiara sang pecipta

Selasa, 02 Juli 2019

Entah kapan my poem

Entah kapan kita mendapat giliran
Entah kapan namun itu sudah di jadwalkan
Entah kapan bisa besok lusa nanti bahkan sekarang
Semua itu pasti kita kan menghadapi

Entah kapan waktu kita tiba sudah kah kita mempersiapkan
Akan kah kita menghadapi nya dengan senyuman
Atau dengan tangisan penyesalan

Entah kapan kita tidak tau bisa saja sekarang
Namun masih saja kita mengabaikan
Tak ada manusia yang sempurna dan tak berdosa
Namun sering nya kita lupa merasa paling sempurna

Kematian itu pasti dan kita tak kan bisa lari apa lagi sembunyi
Entah kapan dia mengahapiri yang tau hanya lah Ilahi Robbi
Entah kapan waktu kita akan tiba tidak akan pernah ada yang dapat menerka
Yang kita bisa hanya mempersiapkan agar kita bisa menyambut smua dengan senyuman

 ingat lah kawan dunia ini hanya persingahan
Jadi sudah seberapa siap kah kita untuk kembali pulang?



Chintya
Lupa tapi baru selesai dua hari yang Lalu terinpirasi dari meninggal nya Almarhun Ustad Arifin Ilham Alfatiha buat beliau
Insya Allah beliau sudah di tempat yang indah sekarang

My poem 07/02/2019

malam ku kembali kelam
ya ku tau malam memang tak terang 
tapi setidak nya ada bintang dan bulan 
namun tidak untuk ku malam ini 
malam ku kelam dan terasa amat panjang 

saat ku mulai agak tenang ku coba untuk terpejam 
namun tiba-tiba sosok itu datang 
dia tenang namun kata-kata nya menikam 
dan aku hanya bisa terdiam ku coba hati ini berbisik mengigat tuhan 

satu dua perkataan dia keluarkan 
kadang ada pertanyaan dan semua itu sungguh menyudutkan 
ku tahan air mata ini agar tak tumpah 
agar aku tak terlihat lemah 

semua itu ku dengarkan namun bibir ku tak dapat mengeluarkan kata 
hati ini berbisik berbicara tau kah aku terluka 
namun ku coba terlihat biasa ku hibur hati dengan doa 
ku tenangkan dengan mengingat sang pecipta 

ku terima ini smua karna memang aku bersalah 
walau apa yang ku terima sungguh seakan aku sangat hina 
malam ini malam yang kelam dan terasa amat panjang
tapi aku yakin nanti kan ku jumpai malam yang indah di temani bulan dan seribu bintang



chintya 07/02/2019 

Senin, 01 Juli 2019

my poem 01/06/2019

ketika aku bisa bertemu pada mu
aku malah menjauh bahkan kadang ku acuh
padahal kau memanggil ku
aku yang butuh dirimu bukan engkau yang butuh aku

ada masa di saat ku tak bisa "bertemu" pada mu 
sungguh di masa itu aku rindu
sungguh penyesalan itu menikam
namun ku obati semua dengan mendengarkan surat-surat mu

dengan mendengarkan pelajaran-pelajaran mu
dengan memuji mu dengan mulut ku
itu lah obat rindu ku
saat aku tidak bisa langsung bercerita kepada mu

tak terbayang kan saat waktu ku tiba
aku terlalu lama menjauh pada mu
saat harus nya aku senang karna aku akan begitu dekat dengan mu
aku akan di sisi mu  namun ku terlalu lama mengabaikan mu dan yang ku rasakan ahnya lah penyeselan

Ya Allah Ya Robbi Ya Robbana
sang pemilik jiwa tetapkan hati ini selalu beristiqomah
beristiqomah beribadah pada mu
sungguh ku rindu bercerita padamu dalam sujud ku

Chintya 01/07/2019

My poem 19/04/2019

nasib si  pecundang
pecundang yang malang
harga diri nya sudah  di telanjang
dia  di  anggap pembangkang

nasib si pecundang
tiap hari memeluk angan
hanya tuhan lah yang dia harapkan
untuk jalan diri nya sebagai pemenang

nasib si pecundang
selalu di remehkan
selalu salah
tak berguna bagai sampah

oh nasib mu si pecundang
tersenyum palsu dengan hati pilu
merasakan bahagia namun fana
terlihat kuat walau namun rapuh

bangun lah hai pecundang
jangan mau jadi gelandang
kau harus jadi pejuang
lalu raihlah kemenangan

buktikan hai pecundang
namun jangan engkau dendam
bangkit lah sebagai pejuang
yang berjalan di atas kebenaran

tapi jangan lah hati mu membenci
lawan mereka dengan peluru prestasi
pedang kasih sayang  juga perisai doa
ubah nasib mu penjadi pemenang


ayo sang pecundang
jangan hanya memeluk angan
buat angan itu jadi kenyataan
sebagai pembuktian

jangan kau putus asa karna masih ada Allah SWT
bangkit lah pecundang berubah lah jadi pejuang
berdoa lah meminta jalan pada tuhan
bangkit dan berjuang lah Insya Allah kau akan jadi pemenang

chintya 19 april 2019